Meski tersedia pekerjaan di rumah, Ayah saya selalu menginginkan anak-anaknya untuk menimba pengalaman di dunia luar... menjadi staff atau anak buah orang lain, belajar dari bawah, sehingga akan tahu bagaimana susahnya "mencari" uang dan pada akhirnya dia mengharapkan anak-anaknya akan lebih menghargai hidup danjika kelak menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin yang baik yang memimpin dengan hati tidak hanya dengan kepandaian.
Jiwa saya memang jiwa kuli. Yah setidaknya kuli tinta hehe saat ini saya bekerja sebagai penulis di sebuah majalah lifestyle dengan gaji buruh. Ketika orang rumah meminta saya pulang dan memulai usaha sendiri saya justru menolak... nggak pede dan jujur saya belum tahu apa yang bisa saya lakukan selain menulis. Jadilah saya di"jajah" di perusahaan ini, berangkat pagi pulang di atas jam 8 malam. Setiap bertemu dengan Ayah saya pertanyaannya selalu sama: "gimana... dah naik gaji belum?" dan setelah setahun bekerja saya baru bisa bilang "sudah... 10%" dan tawanya menggelegar... jadi kuli memang gaji-nya "terbatas" hehe tapi ya tetap harus bersyukur masih bisa beli kopi starbucks kekekeke, begitu selalu kata teman kerja saya.
Seninya jadi kuli adalah kita bekerja untuk mandor. Yang lebih nyeni lagi adlah ketika mandor kita atau pemimpin perusahaan tempat kita bekerja, memimpin dengan "mood" dan ego-nya bukan dengan HATI. Hasilnya, hampir setiap hari saya melihat dinamika perusahaan yang "unik". Beberapa hari terakhir si bos "kecewa" dan output-nya jadi menerapkan sistem-sistem ajaib... dan saya termasuk salah satu yang terkena dampak keajaiban itu... hahahaha... tidak Alhamdulillah saya tidak dipecat justru saya tidak boleh cuti dengan alasan yang tidak etis jika disebut di sini.
Anyway, meihat kebijakan yang tidak bijaksana dari si bos saya justru menjadi geli dan tertawa... kenapa juga ya saya bertahan menjadi buruh orang yang memimpin tidak dengan hatinya ya ? memangnya saya desperate itu ya hingga mau "diinjak-injak". Alkisah saya lalu ingat kebijaksanaan Ayah saya... suatu hari salah seorang pegawai ayah saya mencuri inventaris perusahaan... untuk sekedar informasi perusahaan Ayah saya itu di bidang transportasi, jadi barang-barangyang dicuri pun dari mesin-mesin bekas yang masih bisa dipakai apalagi dijual, ban, oli, dsb... Marah dan kecewa pastilah Ayah saya. Tapi lagi-lagi ini Ayah saya yang sebagian besar karyawannya telah bekerja bersama Ayah saya hampir seumur saya, ya.. di atas 20 tahun jadi.. dia lebih menganggap karyawan-karyawannya bagian dari keluarganya.
Si pencuri ini ditanya oleh Ayah saya, apa alasan dia mencuri. Bagi Ayah saya yang terpenting dalam bekerja danjuga hidup adalah kejujuran--harus JUJUR. Mencuri tentu saja suatu bentuk ketidakjujuran yang akut. Kemudian Ayah saya juga bertanya berapa jiwa yang harus dia tanggung sebagai suami dan bapak ? setelah "pengakuan" si pencuri, ayah saya bilang "kamu bekerja untuk memberi makan anak-istri kamu, kan. Saya sudah berusaha membantu itu, menyambung hidup keluarga kamu. Tapi saya kecewa kamu tidak jujur jadi saya lebih baik membantu orang lain yang jujur. Karena tujuan kamu memberi makan anak istri, aku cuma bisa bantu kamu beras (lupa berapa kuintal), cukup untuk makan setidaknya tiga bulan sementara kamu mencari pekerjaan baru." ... dan pencuri itu menitikkan air mata.
Jadi, saya pikir jika "keajaiban" ini masih terjadi saya rasa saya tahu apa yang harus saya lakukan. Dan mungkin ini juga yang Ayah saya ingin tunjukkan... pengalaman memang mambuat kita menjadi kaya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment