I bet u all familiar with this words, “even a hero has the right to bleed” right? Dan saya membuktikannya benar. Sehebat apa pun seseorang, bahkan lelaki, pasti mempunyai what so called “weakness” yang seringkali hanya ditunjukkan kepada orang terdekatnya, seseorang yang membuat dia merasa nyaman menjadi “orang biasa”
Seorang teman, sukses di usianya yang masih muda, memimpin perusahaan teknologi di Timur Tengah. Seorang perfeksionis yang sayangnya good looking dan single. Singkat kata dia mempunyai semua kriteria yang dimimpikan perempuan. Bahkan saya sempat terheran-heran bahwa a perfect man does exist dan tidak hanya di dongeng-dongeng saja. Tapi tentu saja, saya terus mencari kelemahan dia karena saya tidak mau mempercayai dia sesempurna itu. Awalnya saya tidak percaya saya “berteman” dengannya, lebih tidak percaya lagi bahwa pada akhirnya dia merasa “nyaman” berbagi cerita dengan saya. Jangan salah, saya tidak jatuh cinta padanya, sempat terpikir pasti akan menyenangkan menjadi seseorang yang “dipilihnya” tapi… saya tahu itu tidak benar. Sebagai seseorang workaholic, dia bahkan tidak mempunyai waktu untuk socialize dan tentunya “mencari” pendamping
hidup. Meskipun dia mengaku pernah beberapa kali mencoba berkomitmen namun pada akhirnya dia lebih mencintai “karir” nya. Yah… seringkali saya memotret hidup-nya seperti di soap opera! Kenapa ini istimewa buat saya ? karena sebelumnya saya belum pernah mempunya “teman” se-sophisticated ini, atau tepatnya there’s no way for me to make a friend with a person from this kind of crowd. Terlalu ..hmmm mengawang-awang. Bayangkan saja, ketika saya meng-google-nya, dia ada di mana-mana. Dan itu bukan karena friendster atau pun blogging… =) dia melakukan sesuatu dalam hidupnya! Kata yang tepat sebenarnya, menakutkan! “Berteman” dengannya membuat saya memahami kehidupan seorang “superman” dan bagaimana dia “berkomunikasi” Well, kadang menyebalkan, karena dia seperti datang dan pergi seenak jidatnya, yah walaupun saya tahu itu karena kesibukannya namun tetap saja saya belum terbiasa untuk dicuekin! Sementar di lain waktu dia bercerita ini itu sepanjang hari di saat saya dikejar-kejar deadline. Semakin hari saya semakin mengenalnya dan itu terkadang semakin menakutkan… entah kenapa. Dia mengajari saya banyak hal… itulah mengapa saya tetap berteman dengannya. Dan ya… in the end saya menyadari bahwa dia juga “manusia” bukan seorang superman lagi di mata saya, meski masih di mata banyak orang. Dia sakit, sakit hati, konyol, tolol dan kekanak-kanakan. Sifat-sifat yang tidak mungkin ditunjukkannya di depan staf, client dan colleague-nya. U know, I do now believe that true colours are hard to reveal… only few people are lucky to be able to testify it during our life. Saya sendiri menjadi pribadi yang amat sangat berbeda di depan kekasih saya dan terkadang itu membuatnya complains a lot… =) We choose our destiny somehow… like the way we choose our “people” . We build our own army… because we believe these people will stand for us… they will not running away no matter how lousy we are… in fact they will defend our pride when we ourselves have nothing’s left. And I think, I am just this lucky bitch who have a chance to be somebody’s “people”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment