Saya merindukan suatu kebahagiaan yang sederhana... seperti bisa menikmati enaknya teh hangat dan membaca buku di sore menjelang senja. Iya saya merindukan senja...
Bahkan saat ini saya membayangkan saya sedang bersantai di pinggir pantai dengan lukisan senja di depan mata... sensasi sederhana yang membuat kita merasa damai.
Semenjak saya tinggal di Jakarta saya melewatkan banyak moment dalam hidup saya... Banyak sekali hal yang harus saya lakukan dan lewati yang membuat kenikmatan teh itu menjadi sangat mahal. Dan ini berlangsung sudah satu setengah tahun, menyedihkan. Saya bekerja dan belajar hidup, itu yang saya lakukan.
Jakarta menyadarkan saya bahwa hidup itu seperti kata Forrest Gump, like a box of chocolate, kita tidak pernah tahu rasa apa yang kita dapat. Satu setengah tahun ini sama dengan lima tahun hidup saya yang lalu, pembelajarannya. Berlebihan ? Saya rasa tidak. Saya bertambah tua lima tahun dalam jangka waktu yang cukup pendek karena episode hidup yang saya lalui.
Saya rindu senja. Rindu keindahan sederhana. Saya ingat ketika saya di Sunderland begitu gampang rasanya menikmati kedamaian yang ditawarkan angin laut. Terkadang saya hanya terduduk di tepi laut dengan cokelat panas dan kentang, sakit saya terobati, lara saya tersapu. Di waktu lain saya menikmati keromantisan bulan bulat, saya berdansa di bawah bulan purnama bersama pacar. Setelahnya kami berjalan-jalan, bertukar cerita dan tawa. Tak ada luka, tak ada tangis.
Ketika itu tidak terlintas di pikiran saya kalau ternyata semua kesederhanaan itu berharga sangat mahal. Sangat mahal. Kebahagiaan itu tidak terbeli, dan itu nyata.
Jakarta membuat saya bekerja 12 jam sehari. Membuat saya lupa warna senja. Membuat saya tidak mempunyai hati lagi. Menyadarkan bahwa waktu menggilas kita. Mengingatkan saya bahwa benar manusia dalam keadaan merugi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment