life is contains of zillion paradox, expectation...and disappointment. yet, in the end we come to realise the core or the point of every single tragedy we have experienced...eventually... once in a while we expected that thing come sooner and easier... and most of the time the reality speaks in their own words, in which wayyyy different from the one we want it to be happened. yes.. ohhh life!
people keep saying: "semua indah pada waktunya" and i do believe so... BUT [again] in the mean time when we are waiting for that particular moment, it's sooooooo soooo hard, difficult and challenging. patience is definitely the key !! but then how patience are we with the patience itself.... yup i'm now making thing even more complicated than it is, like always.
recently, i've just experienced myself the "semua indah pada waktunya" ... and it felt so amazing... though i don't really categorized my own self as a sabar woman, but hey... i do actually in a certain thing that i really want in life.. Alhamdulillah...
along the way, we do learn something in life... despite all the "instant and disposable" that this modern life has to offered... there's still something that we have to stick on.. no matter who we are and what we are... 'cos thing in the end is merely the outcome of our own action.
Monday, 31 March 2008
Thursday, 27 March 2008
Sebuah Memori
Suatu hari di musim panas [kalau tak salah aku menerka waktu...], di sebuah kota di tepi sungai wear, bertenggerlah sebuah rumah berpintu kayu berteralis putih. Rumah berlantai tiga yang terletak di deretan jalan roker bernomor 73--Roker Street 73, begitu alamat rumah yang baru saja direnovasi itu. Desain luarnya yang sederhana dan lingkungan sekitarnya yang cenderung murung membuat kawasan Roker menjadi lebih suram dan terkesan "gelap"--toh itu tak meredakan keenam anak rantau untuk berkemas dari asrama kampus yang mahal dan pindah ke roker 73--sebuah harapan baru, setidaknya itulah yang kala itu tersirat.
Tidak ada yang istimewa dari keenam mahasiswa ini, kecuali mimpi-mimpi mereka yang mereka biarkan menari-nari di dunia angan mereka--menanti untuk disemai. Mimpi juga mungkin yang menyatukan keenam anak manusia ini, hingga Tuhan menggariskan mereka berpautan di suatu batas waktu, di suatu tempat nun jauh di negeri Inggris Raya, tepatnya di kota kecil bernama Sunderland.
Selaras dengan ber-mil-mil jarak yang mereka tempuh, persahabatan pun tersemai bak kehangatan khas desa galia--gemar bergelak dan berpesta kambing dan yang tak kalah penting; mendiskusikan hal-hal yang tidak penting. Yah selayaknya seorang galia namun bergelar master S2. Sederhana namun nikmat. Dan... pada saatnya pula Roker 73 menjadi pencatat sejarah dari detik-detik yang dilalui oleh perkawanan keenam mahasiswa ini.
Kala itu bulan Ramadhan, tepat di saat daun-daun mulai berguguran menanda datangnya musim dingin tak lama lagi. Melingkarlah mereka di ruang tamu berjendela besar yang menghadap ke jalanan suram Roker. Tak lama lagi kapsul waktu mereka di negeri ini akan merepih dan saatnya beranjak, melanjutkan sisa jalan yang masih tersisa. Tersadar akan sempitnya waktu yang mereka miliki, romantisme mereka pun pecah...mendadak sendu seakan menyatu dengan abu-abunya langit Sunderland senja itu.
"Aku ingin waktu berhenti di sini saja... di saat kita "muda", di saat harapan kita membumbung tinggi, di saat kita mampu menonjok congkak dunia, di saat jiwa ini hangat oleh sentuhan sahabat..." hangat terasa pipi kala itu, tetesan air mata senja telah jatuh di wajah mahasiswa-mahasiswa itu. Berjuang dengan ruang waktu. Sepi dan dingin.
"Langit kita sama... dan akan tetap sama. Kita berpayung langit yang sama, di manapun dan kapanpun. Kita berbagi langit yang sama kawan..." Tangan-tangan kecil mereka pun bermunajat kepada yang Kuasa, menengadah ke langit abu-abu lepas, menerbangkan doa, harapan dan impian mereka.
Tak peduli kapan dan dimana, kita masih memiliki ruang bersama nun di langit yang tinggi... ruang waktu dan tempat ini hanyalah sebuah meeting point jiwa-jiwa yang haus akan harapan... namun sayangnya kemenangan tidaklah tersedia di Roker 73, di Sunderland atau pun di Inggris Raya ini.
Saatnya menjadi dewasa.
Mereka berpencar bagai sinar pendar kecil ke segala penjuru, berlarian menangkap pagi... meneteskan peluh, berkejaran dengan roda waktu... menghidupkan memori kecil akan hangatnya Roker 73 layaknya sebuah lilin yang tak lelah mengarahkan mereka menuju jalan pulang--kepada mimpi dan kehangatan.
Nyatanya growing-up is a painful experience...
Sebuah memori untuk keluargaku di Roker 73. Love you and miss those times.
Tidak ada yang istimewa dari keenam mahasiswa ini, kecuali mimpi-mimpi mereka yang mereka biarkan menari-nari di dunia angan mereka--menanti untuk disemai. Mimpi juga mungkin yang menyatukan keenam anak manusia ini, hingga Tuhan menggariskan mereka berpautan di suatu batas waktu, di suatu tempat nun jauh di negeri Inggris Raya, tepatnya di kota kecil bernama Sunderland.
Selaras dengan ber-mil-mil jarak yang mereka tempuh, persahabatan pun tersemai bak kehangatan khas desa galia--gemar bergelak dan berpesta kambing dan yang tak kalah penting; mendiskusikan hal-hal yang tidak penting. Yah selayaknya seorang galia namun bergelar master S2. Sederhana namun nikmat. Dan... pada saatnya pula Roker 73 menjadi pencatat sejarah dari detik-detik yang dilalui oleh perkawanan keenam mahasiswa ini.
Kala itu bulan Ramadhan, tepat di saat daun-daun mulai berguguran menanda datangnya musim dingin tak lama lagi. Melingkarlah mereka di ruang tamu berjendela besar yang menghadap ke jalanan suram Roker. Tak lama lagi kapsul waktu mereka di negeri ini akan merepih dan saatnya beranjak, melanjutkan sisa jalan yang masih tersisa. Tersadar akan sempitnya waktu yang mereka miliki, romantisme mereka pun pecah...mendadak sendu seakan menyatu dengan abu-abunya langit Sunderland senja itu.
"Aku ingin waktu berhenti di sini saja... di saat kita "muda", di saat harapan kita membumbung tinggi, di saat kita mampu menonjok congkak dunia, di saat jiwa ini hangat oleh sentuhan sahabat..." hangat terasa pipi kala itu, tetesan air mata senja telah jatuh di wajah mahasiswa-mahasiswa itu. Berjuang dengan ruang waktu. Sepi dan dingin.
"Langit kita sama... dan akan tetap sama. Kita berpayung langit yang sama, di manapun dan kapanpun. Kita berbagi langit yang sama kawan..." Tangan-tangan kecil mereka pun bermunajat kepada yang Kuasa, menengadah ke langit abu-abu lepas, menerbangkan doa, harapan dan impian mereka.
Tak peduli kapan dan dimana, kita masih memiliki ruang bersama nun di langit yang tinggi... ruang waktu dan tempat ini hanyalah sebuah meeting point jiwa-jiwa yang haus akan harapan... namun sayangnya kemenangan tidaklah tersedia di Roker 73, di Sunderland atau pun di Inggris Raya ini.
Saatnya menjadi dewasa.
Mereka berpencar bagai sinar pendar kecil ke segala penjuru, berlarian menangkap pagi... meneteskan peluh, berkejaran dengan roda waktu... menghidupkan memori kecil akan hangatnya Roker 73 layaknya sebuah lilin yang tak lelah mengarahkan mereka menuju jalan pulang--kepada mimpi dan kehangatan.
Nyatanya growing-up is a painful experience...
Sebuah memori untuk keluargaku di Roker 73. Love you and miss those times.
Tuesday, 25 March 2008
Wednesday, 19 March 2008
yang sering terlupakan...

.............Bismillahirrohmanirrohim........................
Every moment of this life is filled with Your eternal radiance my Beloved, You are the Beneficent One who endlessly showers all of creation with nourishment and blessings, and the One who generously rewards those who live in harmony with Your Divine Will.
Tuesday, 11 March 2008
lost!
Suatu kali di bulan yang telah lalu, saya pernah berpikir bahwa sebagai manusia yang paling menyakitkan adalah ketika kita tidak mampu memahami apa yang kita inginkan. Yah mungkin tujuan... mungkin. Yang pasti, ketika saat ini saya berada dalam kebimbangan mencoba mengerti apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup saya yang terasa hanya sakit hati yang mengungkung... kenyataannya, saya sungguh tak mengerti apa yang saya mau.
Friday, 7 March 2008
buat si "taman bermain"
bingung bagaimana sebaiknya saya mengejawantahkan apa yang ada dalam kepala saya saat ini... [this is exactly why I always say writing for me is more like a war, a battle to entangled the thought I have within and express it into the right sentence with the right words... ]
kalau saya mencoba menangkap intisari dari keruwetan gagasan yang ada dalam dunia pikir dan rasa saya, kata yang tepat mungkin saya bahagia. Iya bahagia mengenal dia yang namanya tak pernah saya sebutkan, dia yang membuat hidup saya penuh rasa dan warna dengan keragaman corak yang dia tawarkan.
cukup bahagia bahwa ternyata kami "berteman" bisa melepas apa pun itu... dan saya merasa beruntung. beruntung untuk keberadaannya di "dunia maya" saya, di dunia imajinasi saya tentang apa itu kesempurnaan.
dia adalah taman bermain saya. di mana saya bisa berlari-lari tanpa sepatu, menari-nari tanpa musik, bernyanyi tanpa nada, tertawa tanpa etika... seperti layaknya merayakan kemerdekaan jiwa. iya dia memerdekakan saya, bahkan membebaskan keliaran saya terbahak keras.
dia adalah alasan laptop saya menyala hampir 18 jam setiap harinya!!
entah apa sebenarnya ini tapi saya selalu merindukan "kekonyolan" apa pun yang kita ciptakan. saya penasaran, tapi saya tak mungkin menanyakan "ini apa" tapi yang saya tahu ini "sesuatu" untuk saya dan dia... karena apa pun alasan kita masih "bersama" dan masih "bermimpi"
rasanya ingin sekali berbagi senja dengannya... tentunya tanpa "formalitas" seperti ketika pertama kali kita bertemu
sebelum terlambat..
sebelum terlambat saya ingin tahu ini apa..
aneh tapi membahagiakan.
kalau saya mencoba menangkap intisari dari keruwetan gagasan yang ada dalam dunia pikir dan rasa saya, kata yang tepat mungkin saya bahagia. Iya bahagia mengenal dia yang namanya tak pernah saya sebutkan, dia yang membuat hidup saya penuh rasa dan warna dengan keragaman corak yang dia tawarkan.
cukup bahagia bahwa ternyata kami "berteman" bisa melepas apa pun itu... dan saya merasa beruntung. beruntung untuk keberadaannya di "dunia maya" saya, di dunia imajinasi saya tentang apa itu kesempurnaan.
dia adalah taman bermain saya. di mana saya bisa berlari-lari tanpa sepatu, menari-nari tanpa musik, bernyanyi tanpa nada, tertawa tanpa etika... seperti layaknya merayakan kemerdekaan jiwa. iya dia memerdekakan saya, bahkan membebaskan keliaran saya terbahak keras.
dia adalah alasan laptop saya menyala hampir 18 jam setiap harinya!!
entah apa sebenarnya ini tapi saya selalu merindukan "kekonyolan" apa pun yang kita ciptakan. saya penasaran, tapi saya tak mungkin menanyakan "ini apa" tapi yang saya tahu ini "sesuatu" untuk saya dan dia... karena apa pun alasan kita masih "bersama" dan masih "bermimpi"
rasanya ingin sekali berbagi senja dengannya... tentunya tanpa "formalitas" seperti ketika pertama kali kita bertemu
sebelum terlambat..
sebelum terlambat saya ingin tahu ini apa..
aneh tapi membahagiakan.
Tuesday, 4 March 2008
drama...drama...drama...
...
waiting anxiously
...
d' u know that this gonna be ur last chance?
...
how about ku de ta, seminyak some time next week ?
will you be there ?
...
for the last time perhaps ?
before I say "I do"
...
waiting anxiously
...
d' u know that this gonna be ur last chance?
...
how about ku de ta, seminyak some time next week ?
will you be there ?
...
for the last time perhaps ?
before I say "I do"
...
Subscribe to:
Posts (Atom)