Suatu hari di musim panas [kalau tak salah aku menerka waktu...], di sebuah kota di tepi sungai wear, bertenggerlah sebuah rumah berpintu kayu berteralis putih. Rumah berlantai tiga yang terletak di deretan jalan roker bernomor 73--Roker Street 73, begitu alamat rumah yang baru saja direnovasi itu. Desain luarnya yang sederhana dan lingkungan sekitarnya yang cenderung murung membuat kawasan Roker menjadi lebih suram dan terkesan "gelap"--toh itu tak meredakan keenam anak rantau untuk berkemas dari asrama kampus yang mahal dan pindah ke roker 73--sebuah harapan baru, setidaknya itulah yang kala itu tersirat.
Tidak ada yang istimewa dari keenam mahasiswa ini, kecuali mimpi-mimpi mereka yang mereka biarkan menari-nari di dunia angan mereka--menanti untuk disemai. Mimpi juga mungkin yang menyatukan keenam anak manusia ini, hingga Tuhan menggariskan mereka berpautan di suatu batas waktu, di suatu tempat nun jauh di negeri Inggris Raya, tepatnya di kota kecil bernama Sunderland.
Selaras dengan ber-mil-mil jarak yang mereka tempuh, persahabatan pun tersemai bak kehangatan khas desa galia--gemar bergelak dan berpesta kambing dan yang tak kalah penting; mendiskusikan hal-hal yang tidak penting. Yah selayaknya seorang galia namun bergelar master S2. Sederhana namun nikmat. Dan... pada saatnya pula Roker 73 menjadi pencatat sejarah dari detik-detik yang dilalui oleh perkawanan keenam mahasiswa ini.
Kala itu bulan Ramadhan, tepat di saat daun-daun mulai berguguran menanda datangnya musim dingin tak lama lagi. Melingkarlah mereka di ruang tamu berjendela besar yang menghadap ke jalanan suram Roker. Tak lama lagi kapsul waktu mereka di negeri ini akan merepih dan saatnya beranjak, melanjutkan sisa jalan yang masih tersisa. Tersadar akan sempitnya waktu yang mereka miliki, romantisme mereka pun pecah...mendadak sendu seakan menyatu dengan abu-abunya langit Sunderland senja itu.
"Aku ingin waktu berhenti di sini saja... di saat kita "muda", di saat harapan kita membumbung tinggi, di saat kita mampu menonjok congkak dunia, di saat jiwa ini hangat oleh sentuhan sahabat..." hangat terasa pipi kala itu, tetesan air mata senja telah jatuh di wajah mahasiswa-mahasiswa itu. Berjuang dengan ruang waktu. Sepi dan dingin.
"Langit kita sama... dan akan tetap sama. Kita berpayung langit yang sama, di manapun dan kapanpun. Kita berbagi langit yang sama kawan..." Tangan-tangan kecil mereka pun bermunajat kepada yang Kuasa, menengadah ke langit abu-abu lepas, menerbangkan doa, harapan dan impian mereka.
Tak peduli kapan dan dimana, kita masih memiliki ruang bersama nun di langit yang tinggi... ruang waktu dan tempat ini hanyalah sebuah meeting point jiwa-jiwa yang haus akan harapan... namun sayangnya kemenangan tidaklah tersedia di Roker 73, di Sunderland atau pun di Inggris Raya ini.
Saatnya menjadi dewasa.
Mereka berpencar bagai sinar pendar kecil ke segala penjuru, berlarian menangkap pagi... meneteskan peluh, berkejaran dengan roda waktu... menghidupkan memori kecil akan hangatnya Roker 73 layaknya sebuah lilin yang tak lelah mengarahkan mereka menuju jalan pulang--kepada mimpi dan kehangatan.
Nyatanya growing-up is a painful experience...
Sebuah memori untuk keluargaku di Roker 73. Love you and miss those times.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment