Thursday, 17 January 2008

memaafkan...

Bapak saya adalah seorang pemaaf. Disakiti dan dikhianati sedalam apa pun dia tidak menaruh dendam. Kesal mungkin selama beberapa saat, tidak lama, setelah itu hatinya memilih membebaskan racun kebencian. Memaafkan. Bahkan ketika saya anaknya belum mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti bapak saya, ia telah berjabat tangan dan berbincang hangat dengan orang-orang munafik itu.

Saya baru mengerti bahwa memafkan itu sulit akhir-akhir ini. Ketika saya menyadari bahwa saya mempunyai sisi "gelap", ketika saya menemukan bahwa amarah itu mengerikan, membutakan dan menyakitkan.

Bapak saya mudah percaya dengan orang, karenanya ia banyak dimanfaatkan oleh orang. Dan tetap memaafkannya. Saya susah mempercayai orang dan sangat pemilih dalam bersahabat. Karenanya ketika saya dikecewakan oleh orang yang sudah saya percaya, sakit saya tak terperi. Marah yang bergulung-gulung.

Dan saya sedang mengalaminya.

Dan saya tak bisa memaafkan, meski tahun telah berlalu... rasa marah, kecewa, sakit hati masih terus berada di tempat yang sama. Tidak bergeming.
Melelahkan.

Sedihnya, ketika orang yang membuat saya kecewa sakit hati telah berjalan pergi dan "melupakan" apa yang telah ia perbuat dan berharap "waktu akan menyembuhkan luka" dan... itu salah.
Memaafkan itu bagi saya ternyata tidak mudah.

Jujur, saya terkejut dengan kenyataan bahwa saya bukan orang yang pemaaf.
Ini pertama kali dalam hidup saya, saya begitu kecewa dan sakit hati dengan orang dan.. belum bisa melupakan dan memaafkan.

Melelahkan.

Saya rasa saya akan menjadi orang yang menang ketika saya mampu membebaskan luka ini dan berdamai dengan diri saya, dengan luka yang tertancap dan menjadi bijaksana seperti bapak saya.
Bapak yang seorang pemaaf.

Saya belum memaafkan... dan tidak pernah lupa.

No comments: