suatu hari di bulan tua... beberapa tahun yang lalu...
di sebuah bus yang melaju ke kota tua nan cantik, Edinburgh namanya.
sendiri
kuamati daun-daun yang beterbangan tertiup angin kencang siang itu
udara dingin dan aku terbalut rapat dalam coat coklat tua berlapis bulu tebal.
iya ini bulan tua, sudah menjelang musim dingin.
daun-daun pun kuning menua
berguguran, menambah romantis jalan-jalan di negeri yang amat sendu ini.
The Long and Winding Road dari The Beatles menemani mesra dari sebuah mini i-pod berwarna pink.
melancholic.
setelah hampir dua jam,
di sebuah kedai kopi di daerah Berwick upon Tweed bus berhenti.
angin kencang... udara pun tampak tak mau bersahabat
boots kulit coklat yang kukenakan tak mampu menahan dingin.
secangkir hot chocolate dan Royal Edinburgh shortbread fingers terhidang cantik di atas meja kayu oak tua
kuseduh pelan.
daun kuning dan coklat menghujaniku.
bulan ini memang sudah sangat tua.
ketika itu, aku berpikir tentang hari ini.
sebuah masa di mana aku merindukan daun kuning menua ini.
tak lama bus kembali berjalan,
melanjutkan sisa rute, menuju ke kastil tua di tengah kota Edinburgh.
daun daun gugur itu beterbangan tertiup deru knalpot bus.
melayang dan jatuh.
seperti masa... yang juga menguning.
Edinburgh castle... tua namun tetap anggun,
cantik di tengah kota yang dipenuhi manusia dari ragam jagat
kastil tua, daun tua, bulan tua,...
hatiku juga menua dalam kisaran masa yang berputar bak labirin,
menyesatkan.
namun ketuaan-ketuaan itu membawa damai
seperti kastil tua yang menjadi saksi polah-tingkah manusia manusia berabad-abad
seperti daun tua yang menghijau-kuning-coklat dan gugur dalam keromantisan
seperti bulan tua yang menyisakan pembelajaran dan pendewasaan
rasanya duduk di bulan tua di kota tua nan cantik Edinburgh dan dihujani daun-daun tua adalah sebuah serenada hidup yang klasik dan merdu seperti waltz.
dan aku amat rindu dengan senandung waltz itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment